Segenap Crew Radio Da'wah Himmah Yaman Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Memahami Esensi Diri dalam Penegakan Nilai Positif dan Kepedulian Terhadap Lingkungan

    Bukan hal yang tabu bila peziarah dari penjuru dunia yang sedang berkunjung ke negeri auliya` harus disuguhi dengan suasana alam yang “mencengangkan”. Yaman adalah satu-satunya negara di jazirah Arab yang menggunakan sistem republik dalam pemerintahannya.

Dan sistem itulah yang -katanya- telah banyak membantu perkembangan kebudayaan manusia karena setiap warga negara berhak menyampaikan pendapatnya. Buktinya, Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa di Yaman selama lebih dari tiga puluh tahun pun harus bertekuk menandatangani surat keputusan yang memberi peluang kepada rakyat untuk melakukan pemilu presiden pengganti dirinya, meski kenyataan yang ada pun tak mengisyaratkan bahwa pemilu itu membawa perubahan baik kepada warga negara Yaman. Demonstrasi masih terjadi di mana-mana, suara tembakan selalu menemani setiap waktu, dan antrian pom bensin masih sepanjang mata memandang. Tidak hanya itu, hari di mana pesta demokrasi dilaksanakan juga tak layak disebut “pesta” seperti julukannya, karena ternyata warga Januby lebih menginginkan infishol (pisah-adm) daripada harus menanggung resiko ketidakadilan yang akan dan telah diterapkan selama ini kepada mereka. Yaman memang sedang merangkak dan bahkan belum bisa andan-andan (istilah untuk bayi yang sedang latihan berjalan dengan berpegangan). Kita tunggu saja apakah negeri yang telah ada sejak kurun waktu silam itu berhasil mengubah dirinya menjadi apa yang telah dicita-citakan dan diperjuangkan hingga harus mengorbankan ratusan warga yang tewas dalam mudzoharoh-mudzoharoh (demonstrasi) ataukah harus bersabar menunggu beberapa abad lagi untuknya?
    Masalahnya, suatu keberhasilan besar selalu diawali dengan keberhasilan-keberhasilan kecil. Tak perlu susah-susah mencari contoh karena setiap orang, siapapun dia dan berasal dari negara manapun, asalkan  mau keluar sebentar untuk berjalan-jalan di keramaian Kota Mukalla (lokasi pusat Universitas Al-Ahgaff berada) misalkan, akan dengan segera membuktikan kerapuhan sistem dan suasana “demokratis” yang tak pernah terbayang sebelumnya. Demokratis karena setiap orang bebas membuang sampah di mana saja, dan pengendara kendaraan bermotor boleh memanfaatkan jalan raya sebagai tempat parkiran mereka.
    Inilah yang melatarbelakangi tema tulisan kali ini. Peduli lingkungan. Bukan membahas tentang carut-marutnya kondisi demokrasi di negara Yaman, juga bukan menyusun siasat untuk memperbaikinya, tapi lebih kepada peran kita sebagai “orang kecil” yang hanya menumpang untuk `mencoba menggali ilmu-ilmu agama dari ulama`-ulama` penerus perjuangan Rasulullah yang bermukim di negara ini.
    Pemerintah Indonesia memang tak pernah memberi sokongan nyata sebagai bentuk perhatian kepada warga negara yang sedang melakukan studi di luar negeri, Yaman misalkan. Berapa banyak ilmu yang telah diberikan secara cuma-cuma kepada para mahasiswa dan santri di beberapa perguruan tinggi dan ribath yang ada di Negeri Saba` ini, dan mereka bukanlah ulama` biasa tapi adalah titisan walisongo yang dahulu kala telah berhasil memasukkan Islam sebagai agama yang tetap eksis dan berkembang di Indonesia hingga saat ini, dengan cara yang benar-benar tak memasukkan unsur kekerasan di dalamnya.
    Sekali lagi, kita tak ingin membicarakan kondisi politik demokratis Yaman dengan serba cemarutnya, tapi bagaimana kita belajar dari lingkungan di sekitar kita untuk kemudian menemukan celah terang yang selama ini tertutup oleh kabut. Di luar sana, bukan, bukan di luar sana, tapi di mana saja selalu terdapat hal-hal yang bisa diambil pelajaran darinya. Cobalah menengok sedikit ke arah bawah, samping, ke depan, belakang, dan ke semua unsur yang menemani keberadaan kita, di sanalah kita menemukan pelajaran tersebut.
    Dimulai dari hal-hal yang kecil, sekecil apapun di mata kita, itu adalah aset berharga yang sangat berpengaruh dalam upaya kepedulian terhadap heterogenitas environment yang lebih kompleks dengan segala permasalahannya. Sebelum kita melangkah untuk berurusan dengan pihak-pihak atau aparat pemerintah demi  mengadukan segala unek-unek yang secara dzohir sering kita anggap sebagai langkah mulia bagi lingkungan sekitar, ada baiknya membenahi diri dengan lingkungan kecil yang melingkupi terlebih dahulu. Seusai makan misalnya, apakah bungkus makanan yang ada sudah tertampung dalam tempat yang semestinya dan bukan tergeletak begitu saja sebagai barang yang tak perlu diperhatikan, dan jikalau terdapat sisa makanan yang memang benar-benar tidak ada kapasitas tempat di dalam perut kita, apakah dia tertumpuk begitu saja beserta onggokan sampah ataukah tersalurkan kepada anak kecil yang sering mengambil sampah dari halaman belakang kita, atau paling tidak menjadi hadiah favorit bagi ikan-ikan lele dan ayam-ayam liar di sekitar gang desa. Begitu selanjutnya runtutan yang semestinya dilakukan dalam satu jenis kegiatan saja, yaitu makan. Tentu saja masih terdapat banyak sekali cara dan implementasi kepedulian kita terhadap lingkungan yang bisa diwujudkan dalam setiap gerak dan kegiatan yang dilakukan.

Peduli pada sesama menumbuhkan solidaritas tinggi antar-manusia.
    Di antara alam yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala terdapat makhluk yang bernama manusia. Dan sudah tak diragukan lagi, bahwa yang membedakan makhluk yang satu ini dengan makhluk-makhluk yang lain adalah anugerah akal yang begitu hebatnya sehingga mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.
    Begitupun manusia dengan serba-serbi kehidupan yang meliputinya seperti kebahagiaan, kesedihan, persahabatan, cinta, musibah, nikmat, dan masih banyak hal-hal yang menemani untuk terus bertahan menjadi insan yang terus meningkatkan derajatnya di depan Sang Pencipta. Selain itu, terdapat pula manusia dengan beragam sifat yang terkadang kita anggap aneh hanya karena tidak sesuai dengan keyakinan dan kepribadian kita.
    Ketika kita melihat rekan yang begitu pemalas misalnnya, mempunyai jadwal tidur sampai dua belas jam dalam seharinya, dan tidak pernah bersungguh-sungguh dalam semua tugas yang diamanahkan kepadanya, naluri kita pasti akan menentang keras-keras bahkan terkadang menyebabkan rasa ketidaksukaan kita kepadanya. Itu berlaku kalau kita adalah orang yang sebaliknya, suka dan giat bekerja, tak pernah rela membiarkan waktu terbuang sedikitpun, dan selalu konsisten dengan tugas yang kita emban. Sebaliknya kalau ternyata kita adalah tipe orang yang berpedoman bahwa hidup ini harus dijalani dengan santai tanpa harus ngoyo (Jawa: serius), dan lingkungan di sekitar kita terdiri dari orang-orang super serius dan super tegas dalam menghadapi problematika kehidupan, tentu saja rasa gemas dan tertekan akan selalu hadir dalam benak kita.
    Begitulah hidup. Kalau hanya menginginkan semuanya harus menurut pada kemauan kita, tak akan ada surga dan neraka yang menjadi pembeda antara yang bisa mengamalkan syari`at Allah dan yang mengabaikannya. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah, bagaimana kita menghargai perbedaan yang ada dan menjadikannya semacam pemanis dalam meniti roda kehidupan yang berliku.
     Peka pada apa yang semestinya kita perbuat, siapapun kita dan di lingkungan manapun kita berada. Suatu kelompok masyarakat, dengan kemajemukan dan aneka ragam perbedaan yang terdapat di dalamnya memerlukan suatu kesadaran dari setiap individu untuk tak mementingkan diri sendiri apalagi menafikan keberadaan orang lain di sisi kita. Berpura-pura tak ingin dianggap sebagai orang yang sok penting bukanlah solusi yang tepat karena sebenarnya semua individu dan semua unsur yang terdapat dalam sebuah lingkungan adalah penting dan mempunyai andil dalam membangun tata lingkungan yang tertib.
    Mungkin ada sebagian yang beralasan bahwa dirinya tak mempunyai jiwa pemimpin yang selalu memikirkan keadaan dalam lingkungan yang melingkupinya, sehingga tak perlu repot mengada-ada dengan merancang langkah-langkah pengembangan atau perbaikan masyarakat di sekitarnya. Biarlah, toh setiap orang lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri, bukankah begitu?
    Tentu saja bukan seperti itu. Setiap orang lazim memikirkan apa yang terbaik bagi lingkungannya dan tidak hanya diam menyerahkan segala urusan kepada pihak tertentu, pemerintah misalkan. Setiap orang juga lazim mencari ide-ide baru untuk menyegarkan suasana dalam suatu lingkungan yang ada. Tidak hanya berpangku tangan dan menunggu orang lain melakukan itu, namun melakukan kreasi demi perbaikan kondisi dalam masyarakat. Menumbuhkan rasa solidaritas antar sesama dengan lebih peka terhadap apa yang dibutuhkan orang lain dari apa yang bisa kita berikan untuknya. Ketika melihat teman kita sedang membutuhkan uluran tangan dan tak punya keberanian untuk mengutarakannya, bukankah kita punya perasaan dan naluri yang seharusnya bisa lebih peka untuk kemudian menawarkan bantuan kita padanya? Dan yang terpenting lagi, bahwa semuanya mempunyai etika yang harus dipenuhi agar tidak terjadi bentrokan antara sesuatu yang memang seharusnya dilakukan dengan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diperhatikan. Semua ini berdasarkan atas kebijakan masing-masing individu dalam menghadapi kenyataan yang ada dalam masyarakat ditambah dengan nilai-nilai etika dan adab yang telah banyak diterangkan dalam berbagai kitab, tulisan, atau artikel yang bisa kita jadikan rujukan darinya.

Peduli pada lingkungan sebagai ungkapan syukur terhadap Sang Pencipta.
    Dahulu kala ketika Allah Subhanahu wa Ta`ala hendak menciptakan manusia sebagai kholifah di bumi, para malaikat merasa khawatir kalau-kalau manusia tersebut akan membuat kerusakan seperti yang telah dilakukan bangsa jin sebelumnya. Menanggapi kekhawatiran malaikat tersebut, Allah menjawab dengan firman-Nya:
…Åöäøöí ÃóÚúáóãõ ãóÇ áóÇ ÊóÚúáóãõæäó
“Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqoroh:30)
Allah lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para makhluk-Nya. Dalam penciptaan manusia dan pengutusannya sebagai makhluk yang dipercaya untuk mengelola seluruh isi kekayaan bumi, manusia telah disetting sedemikian rupa lengkap dengan akal dan perasaan sehingga mampu mengolah seluruh isi kekayaan alam yang ada di muka bumi ini.
    Karenanya, tidak ada alasan untuk sengaja tak memikirkan sumber daya alam yang telah dianugerahkan oleh-Nya kepada kita. Jikalau bukan kita yang peduli untuk melestarikan lingkungan yang ada di sekitar kita, akankah kita rela membiarkan adanya kerusakan alam, padahal sebenarnya tangan  kita pun bisa mengendalikan dengan mencegahnya. Ataukah kita harus berpura-pura menutup mata dan telinga melihat berbagai bencana demi bencana terjadi tanpa kesudahan? Semua bencana alam tersebut memang kehendak Allah yang tidak bisa ditolak ataupun ditangguhkan, namun, bukankah selayaknya kita tidak menambah musibah-musibah tersebut dengan ulah tangan-tangan kita?
    Sampah-sampah yang beterbangan tak karuan, tetesan air yang terbuang percuma hanya karena lupa menutup keran, dan udara yang tak sehat disebabkan asap rokok yang mengepul, kesemuanya bukanlah murni musibah yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya, tapi di dalamnya terdapat hasil tangan-tangan manusia yang tidak seharusnya dilakukan. Bagaimana tidak, sedangkan Allah menciptakan alam semesta ini untuk kemaslahatan makhluk-Nya dan kita sebagai makhluk yang berakal malah dengan sengaja merusaknya.
    Baiklah, kita tidak pernah secara sengaja berniat merusaknya, tetapi akan sama saja bila kita diam membiarkan lingkungan di sekitar kita dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Minimal melalui usaha preventif dengan tak melakukan hal-hal kecil yang berdampak besar pada kerusakan lingkungan sebagai bukti kecintaan kita pada lingkungan, itu sudah cukup sebagai andil dalam kepedulian kita terhadapnya. Menyayangi lingkungan karena di dalamnya kita hidup dan darinya kita mengambil manfaat, implementasi dari rasa syukur kita kepada Sang Pencipta alam yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya. Semoga dengan kepedulian kecil kita pada lingkungan sekitar, Allah senantiasa menambah nikmat-Nya kepada kita dan menangguhkan musibah yang akan diturunkannya.

Penutup
    Kembali pada posisi kita sebagai “orang kecil” yang terkadang merasa tak perlu memikirkan ini itu, apalagi terjun dan sok menjadi orang penting yang sibuk mengurusi lingkungan di sekitar kita, ada kalanya kita perlu merenung sejenak. Benarkah keberadaan diri kita tak mempunyai andil sama sekali sehingga tak perlu bersusah memikirkan apa yang berkenaan dengan lingkungan dan membiarkan saja bila ada sesuatu yang tak sesuai dengan aturan yang ada? Ataukah justru masing-masing dari kita adalah orang sangat penting yang harus selalu mendapatkan ide dalam rangka kepedulian kita pada lingkungan?
    Khoirul umuur ausathuhaa. Seperti yang telah dipaparkan di muka, bahwa sebuah keberhasilan besar selalu diawali dengan keberhasilan-keberhasilan kecil. Bila kita mampu menempatkan diri pada posisi yang seharusnya dengan tanpa kurang ataupun lebih, maka itulah yang dituju. Keberadaan kita tentu saja tak bisa dilepaskan dari lingkungan yang mengapit setiap detik. Jikalau lingkungan baik, maka hidup kita akan nyaman, dan begitu pula berlaku sebaliknya. Kita pun tahu bahwa baiknya lingkungan tergantung pada bagaimana kita mengaturnya dan seberapa pedulikah kita padanya. Kepekaan itu akan selalu dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat agar hidup tak hanya mau-mau gue, tapi juga kiprah dan peran apa yang telah kita berikan pada lingkungan sebagai tempat tinggal kita. Tak harus menunggu orang lain untuk memulai, mulailah dari diri kita sendiri. Berbenah untuk menjadi sirojan muniro yang tidak hanya menerangi diri sendiri tapi juga menyinari orang lain. Dan bila setiap individu mengerti esensi keberadaan serta peran dirinya di dalam lingkungan yang ada di sekitarnya, tentu saja dunia menjadi indah. Dari kepedulian itulah timbul upaya untuk terus melakukan perbaikan di dalam semua sisi kehidupan, dan jika perbaikan itu dilakukan bersama-sama, insya Allah impian itu akan segera terwujud. Impian untuk menegakkan negara dan dunia dengan nilai-nilai positif, serta harapan untuk selalu mendapatkan ridlo dari Yang Maha Kuasa, di dunia dan di akhirat. Amin.

Wallahu a'alam, semoga bermanfaat!
(Tulisan ini merupakan arsip dari Kompetisi Menulis Artikel Himmah, yang ditulis oleh: Aliyatu-l Himmah, Mahasiswi universitas Al Ahgaff)

 

 

 

Tulis Komentar


Kode keamanan
Segarkan