Welcome, Guest
Username Password: Remember me

Cara Merawat Jenazah Korban Bencana yang Membludak
(1 viewing) (1) Guest
Anda bisa bertanya seputar Hukum Fikih di sini
  • Page:
  • 1

TOPIC: Cara Merawat Jenazah Korban Bencana yang Membludak

Cara Merawat Jenazah Korban Bencana yang Membludak 10 months ago #173

  • admin
  • OFFLINE
  • Administrator
  • Posts: 121
  • Karma: 0
Pertanyaan:

Assalamu 'alaykum wr. wb.,

Ustadz, pada saat terjadi bencana besar yang memakan korban jiwa yang sangat banyak, kalau harus dimandikan, dikafani kain putih, dan dikuburkan satu persatu, bisa jadi tidak cukup tenaganya. Adakah cara khusus untuk merawat jenazah mereka?

Wassalamu 'alaykum wr. wb.

Jawaban:

Wa 'alaykum salam wr. wb.

Hukum asli dalam merawat mayat adalah sebagaimana yang dipaparkan oleh para ulama yaitu harus dimandikan, dikafani, disholati, dan dikuburkan satu persatu.

Tapi kalau dalam keadaan darurat seperti banyaknya mayat yang meninggal akibat bencana yang besar seperti badai Tsunami, gunung meletus, atau badai topan Haiyan yang menimpa Filiphina baru-baru ini, sehingga kalau dirawat satu persatu akan merepotkan dan tenaganya tidak mencukupi, Allah SWT berfirman:



Artinya:
Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (QS. Al-Hajj: 78).

Allah SWT juga berfirman:

{لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا} [البقرة: ٢٨٦]


Artinya:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. Al-Baqarah: 286).


Maka dalam mengurus mayat-mayat korban bencana alam tersebut ada suatu kemudahan, yaitu tidak diharuskan dirawat satu-persatu, atau tidak dimandikan juga tidak masalah, tidak harus dikafani satu persatu, boleh dalam satu kafan berisi beberapa mayat, dan dalam menguburkan juga diperbolehkan mengubur beberapa mayat dalam satu liang atau bahkan semunya dikuburkan sekaligus. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap syuhada Uhud, yaitu beliau menguburkan para syuhada secara bersama dalam satu liang, karena begitu banyaknya mayat pada waktu itu, sehingga tidak memungkinkan untuk dikubur satu-persatu.


Untuk memandikan mayat juga ada kemudahan, yaitu jika tidak ada air yang tersedia, atau ada air tetapi jumlahnya tidak mencukupi, maka diperbolehkan untuk menggantinya dengan tayammum, namun jika masih kerepotan dan tidak memungkinkan, maka mayat-mayat tersebut boleh dikuburkan tanpa dimandikan.


Adapun untuk kain kafan juga tidak diharuskan menggunakan kain yang berwarna putih, bahkan dalam keadaan normal pun (tidak ada kedharuratan) boleh menggunakan kain kafan yang tidak berwarna putih, tapi yang lebih utama adalah menggunakan kain kafan yang berwarna putih, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam bisshowab.

Wassalamu 'alaykum wr. wb.

Oleh: Al-Ustadz Ahmad Naufal, Lc.
Last Edit: 10 months ago by admin.
  • Page:
  • 1
Time to create page: 0.48 seconds