Terik matahari kota Kediri menyambut tunas-tunas yang siap tumbuh menjadi pengharum bangsa. Di sebuah peristiwa, tersimpan kisah dimana tawa dan lara bersandar di setiap dada anak-anak manusia.
Bersama masa yang berlalu membuat waktu bergulir tanpa tahu berapa tahun sudah. Ah… waktu memang tak tahu kompromi?! Sesaat aku dikagetkan dengan jeritan para siswa, aku mengernyitkan dahiku dengan segudang tanda tanya. Dengan tergopoh-gopoh Nyai mendekati kami.
“Eee...tahu gak sih temen-temen?? sekarang UNAS tambah ribet, aduh… jadi tambah greget, gemes gitu deh...!” kata Nyai, miss tulalit selangit.
“Emang tadi pengumuman apa Nyai ?” tanyaku.
“Apa yah? pokoknya ribet!” jawab Nyai. Mendengar jawaban Nyai anak-anak spontan pergi dengan kecewa, dia hampir mau menangis, beruntunglah Lila langsung dapat menarik tawanya yang imut dengan dua lesung pipi yang melekat. Kurasa hari semakin bermain dengan waktu, dan hari ini semakin mendung, seperti ada yang akan hilang dan pergi.
“Eemm... by the way pada kenapa sih?” tanya Lila tanpa rasa, dan tak perlu ada aba-aba semua mata tertuju padanya.
“Emang aku salah ngomong?” kata Lila dengan sedikit rasa takut.
Saking gemesnya Zizi langsung unjuk bicara, “Aku kasih tau ya... emang kita lagi kena penyakit H2C?!’’
“Apaan tuh?” tanya Lila sambil mengelus-elus kepala, tanda tak mengerti.
“Aduh... please deh! H2C itu (Harap-Harap Cemas)” jawab Zizi gemes.
“Ooo....” jawab Lila mengerti.
“Sudah! nggak perlu lebar-lebar, udara bisa habis tahu!” sentak Eman sambil menutup mulutnya. Sejenak keheningan berganti tawa, namun cukup merenggangkan saraf-saraf yang lelah.
Beberapa saat kemudian kami berkumpul di aula. Para siswa dengan khidmat mendengarkan pengumuman dari bu Mira. Suasana sangat hening meskipun jantung sangat bising karena detakannya yang semakin keras. Tapi tetap saja bisingnya detakan jantung kita tak terdengar oleh pemerintah.
“Jadi anak-anak nanti soalnya A, B, C, D, dan dibagi oleh para pengawas secara acak. Nah... karena satu kelas ada 20 siswa jadi nanti yang sama cuma empat orang dan nilai diambil 40% dari raport sekolah dan 60% dari hasil UNAS.” Semua kata-kata bu Mira masih terus terngiang-ngiang di telinga semua siswa, seakan menghipnotis kepala mereka yang dipenuhi tanda tanya besar tentang ‘bagaimana menghadapi UNAS??’. Bayangan-bayangan tragedi tahun lalu terputar dikepala, 3 tahun seperti tak berarti, kecewa yang mendalam entah berapa lama akan sirna, dan mungkin tak akan pernah sirna selamanya.
“Alhamdulillah lho… kita masih diberi kemudahan,” syukur Nyai.
“Apanya yang mudah Nyai?” tanya Oji heran.
“Jelas dong Oji, sekarang nilainya seratus persen nggak diambil dari UNAS,” jawab Nyai.
“Iya sih, tapi tetep ajakan?!” jawab Oji.
“Itu sih kamu yang nggak mau belajar!” kata Nyai.
“Kok tahu sih?” jawab Oji malu.
“Ya iyalah, Nyai gitu lho...” jawab Nyai bangga, semua siswa tersentak kaget. Kata-kata Nyai cukup merenggangkan kesempitan hati.
“Insyaallah kita bisa, Rini percaya itu, tapi kita harus menjauhi penyakit ‘M’,” kata Rini meneruskan kata-kata Nyai.
“Apa itu?” tanya Oji.
“Please deh Oji...! 'M' tuh sejenis penyakit yang melanda kelas kita sejak lama,” jawab Rini dengan penuh teka-teki. Anak-anakpun tampak berfikir keras, mencerna apa yang dimaksud Rini.
“Apa yah?” Bejo jadi sibuk memegang kepalanya dengan gaya sok mikir.
“Aku tahu...!” Dengan girang Bejo berdiri ke depan diiringi tatapan penasaran para siswa.
“Ehem, ehem... baiklah penyakit yang melanda kelas kita selama ini adalah... ‘Makan’...!!!” kata Bejo bangga.
“Hah...! itu sih penyakit kamu Jo...” kata Rini sambil tertawa terpingkal-pingkal diikuti denga suara koor dari para siswa.
“Huuu...uuuu...” sorakan demi sorakan menghujani Bejo yang semakin menciut dibuatnya.
“Kalo menurut Tiar itu teh artinya males,” jawab Tiar mencoba menjawab.
“Kamu nyinggung aku ya?” jawab Bejo dengan sedikit marah.
“Ya itu sih kamu aja yang ngerasa atuh...” jawab Tiar membela diri.
“Udah-udah gak usah ribut. Aku kasih cepe’ buat Tiar atas jawaban ya, dan cepe’ buat Bejo atas pengakuannya.” Untung Rini bisa menengahi Sunda versus Jawa yang suka bikin ketawa orang lain.
Pelangi kelas tanpa disadarinya mengganti kesenyapan yang menyesakkan, menghiasi jam yang semakin asyik bermain dengan waktu, disusul hari-hari yang semakin melelahkan dengan les-les yang menjadi menu pokok untuk makan siang. Itulah minggu-minggu yang kami lewati dengan rasa takut dan cemas akan ujian. Dan Akhirnya try out pertamapun tiba tanpa kartu undangan.
“Aduh gimana nih aku takut banget...” kata Eman dengan hati yang penuh kekhawatiran dan kecemasan, karena putus semangat.
“Ujian itu cuma buat menguji kemampuan kita saja, nggak akan ada pengaruh apa-apa yang berarti, kamu nggak usah khawatir tentang isi jawabannya, isi sebisanya saja, nggak usah nyontek, yang penting kita mau belajar dengan tekun, itu aja!” Saran Rini menenangkan Eman.
“Itu berat Rin, kamu sih pintar!” jawab Eman bela diri.
“Jalani dulu deh!” sambung Rini.
“Nyai juga nanti mau ngisi sendiri,” kata Nyai dengan semangat dan mantap.
“Aku juga...” Semua siswa menyusul semangat Nyai. Akhirnya Eman yang sudah turun semangat langsung bangkit.
Jembatan kami yang pertama di lewati dengan semangat 45, meskipun ternyata masih ada yang nyontek. Menunggu hasil ujian sekarang menjadi bagian dari kesibukan para siswa, semua guru ditanyai tentang hasil ujian, tapi alhamdulillah jawabannya belum diketahui juga. Lalu diganti dengan nasehat-nasehat dari setiap guru.
***
Matahari seperti biasa menyambut pagi yang dihiasi senyum-senyum manis jenaka, semakin indah dipandang mata. Si putih pencerah pagi datang langsung tertuju pada setiap nama yang terpampang, terasa udara iba menghiasi mereka, guratan-guratan sedih terukir pada setiap mata, percobaan adalah ukuran pikiran-pikiran kegagalan dan rasa takut yang semakin melanda hingga akhir siang tiba. “By the way, jadi siang ini kan pak Jo mau ngumumin?” tanya Lila.
“Terus kenapa Lil?” kata Nyai penasaran.
“Ah Nyai, aku kan cuma pengen mastiin aja,” jawab Lila
“Kalau aku sih tambah MP (Makin Pusing),” tambah Nyai.
"Itu pak Jo...!” kata Oji sambil merapikan duduknya. Tampak sosok laki-laki paruh baya memasuki pintu disertai salam, dengan khidmat anak-anak menjawab meski tanpa semangat.
“Ada apa ini? baru try out aja kaya nggak makan satu bulan, gimana UAN-nya??” tanya pak Jo mencoba berkomunikasi dengan para siswa yang lagi down.
“Mati dong pak?!” jawab seorang siswa.
“Kalau saya jadi malaikat mikir-mikir dulu” kata pak Jo.
“kok gitu sih pak?” tanya Oji penasaran.
“Jelas wong kamu nggak mandi seminggu kok, ha…ha...” jawab pak Jo sambil tertawa. Tidak lama kemudian terdengar tawa para siswa. Pak Jo memang selalu bikin ceria, meskipun sering pusing dengan angka-angka yang beliau punya, matematika memang jarang yang suka, tapi harus di pelajari semua siswa.
“Anak-anakku, try out itu hanya sebuah media percobaan, itu semua tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mengukur kemampuan kalian. Jadi kalau kalian sekarang nggak ada yang lulus, itu pacuan buat kita agar lebih berusaha dan berdo’a, dan harus punya 3S (Santai, Serius, Sukses), bukan cuma santai, ingat!” kata pak Jo menasehati anak-anaknya yang lagi down gara-gara ujian.
“Iya pak...” jawab para siswa serentak. Nasehat pak Jo cukup menancap dalam pikiran dan hati para siswa, tapi akankah mereka melakukannya?
Try out pertama berlalu, disusul try out yang ke-dua, dan ini adalah yang terakhir bagi mereka. Memang ini tak seperti biasanya, mengingat tahun lalu diadakan tiga kali.
“By the way, udah pada siap belum?” Pertanyaan Nyai begitu membara. Yah sebagai pengganti pejuang 45, meski sekarang bukan zaman perang dengan tembakan, tapi perang kebodohan dan semangat 45 harus selalu bisa ditegakkan, selain itu perjuangan pahlawan kita juga harus terus dilakukan, salah satunya adalah dengan memberantas kebodohan.
“Nyai Nyai… dah gak usah ngasih semangat lagi, tuh pengawas udah lirik kanan kiri!” saran Rini.
“Kenapa nggak bilang dari tadi!?” jawab Nyai.
Try out kedua berlalu dengan semu merah, senyum-senyum yang tergambar pada setiap wajah, berhasil atau tidak yang penting mereka berusaha karena itu adalah tugas wajib mereka, berusaha dan berdoa tanpa harus memikirkan hasil, walau terkadang begitu nihil dari yang diimpikan. Manusia memang kebanyakan lupa dengan dirinya, begitu kecil dan lemah.
Pagi tak pernah bosan menjemput siang. Tanpa lama menunggu waktu, akhirnya terungkap juga jawaban yang dinanti.
“Alhamdulillah...” meski hanya sebagian yang lulus tapi itu sudah cukup membekas dalam relung hati, meski takkan menjamin keberhasilan tapi berusaha adalah pilihan yang begitu dekat dengan kesuksesan.
“Temen-temen gimana nih CABURS (Cara Berhasil Ujian Sukses ) kita?” tanya Lila.
“Oh iya ya Nyai baru inget, kok kamu baru ngasih tahu sekarang sih Lil?” dengan wajah merengut Nyai menoleh ke Lila.
“Sorry deh lupa melandaku,” kata Lila. Dia tampak tak enak hati karena sebenarnya dia menyimpan kata-kata itu sejak try out pertama.
“Tenang atuh semuanya! Tiar mah udah menyusun rencana untuk ujian tahun iye tek aya jawaban dari luar, jadi kita akan mengambil temen-temen yang memang pintar di bidang pelajaran nu aya di UNAS, kumaha?” jelas Tiar dengan bahasa yang campur baur, seperti sambal.
“Zizi sih setuju aja, tapi nanti soal kita kan dikasih acak, jadi gak bisa ditentuin siapa TSnya (Tim Sukses-adm)?” kata zizi.
“Kalau itu sih udah aku tentukan, nanti kita bisa menentukan per-kode. Semisal kode A, Rini, Andi, dan Oji,” jawab Tiar menjelaskan.
“Tapi gimana kita bisa tahu Rini dapat kode A?” tanya Lila
“Nya dengeken hela atuh, can engges! (dengerin dulu belum selesai-adm)”. Lila nampak kaget mendengar kekesalan Tiar.
“Maaf deh!” kata Lila memelas.
“Sudah.. sudah, gitu aja dibikin pusing?!’’ Eman dengan cekatan langsung menengahi perdebatan yang bikin Lila melas. Biarpun dia pemales, tapi dia paling nggak tega liat cewek nangis.
“Jadi untuk mengatahui kode apa, nanti perkode ada tandanya, kode A geser ke kiri, kode B geser ke kanan, C nutup soal, D biasa, gimana setuju?” lanjut Tiar meneruskan penjelasannya.
“Setujuuuuu...!” jawab para siswa serempak, bahkan tak ada gerak mulut yang menolak. Meskipun hal itu curang tapi setiap tahun selalu digunakan, dan terkadang bermain dengan uangpun adalah hal biasa. Tidak hanya sekolah mereka tapi sekolah lain pun kebanyakan begitu juga, sampai tak terbilang jumlahnya. Bahkan ironisnya tak ada guru yang melarang, justru mereka membantu para siswa dan itu memang tak jarang, karena rasa kasihan dengan siswa-siswi yang menanggung angka-angka yang dituntut oleh negara, yang setiap tahun semakin bertambah.
Memang UAN selalu menjadi momok terbesar, bukan untuk para murid saja tapi untuk para guru. Sebenarnya, negara berkeinginan untuk meningkatkan kualitas bangsa, tapi pada kenyataannya justru banyak kebohongan dan kecuarangan yang dianggap sesuatu yang remeh. Seakan-akan hal itu adalah hal yang biasa, bahkan sesutu yang wajib dilakukan setiap tahunnya.
***
UNAS berjalan begitu lancar dengan trik-trik yang sudah dipersiapkan. Matahari hanya bisa memandang wajah-wajah yang diikat akan harapan keberhasilan.
Tak akan ada yang ikhlas dengan kegagalan ini, hingga akhirnya rela menembus cara "tak halal". Namun dalam kejadian ini, siapakah yang harus disalahkan? Pemerintahkah, yang seakan-akan tahu dalam segala hal, tahu tentang kita dalam penguasaan materi pelajaran, hingga merekalah yang berhak menentukan lulus tidaknya kita selaku murid dalam tempo 6 hari (UNAS-adm)?? Atau sekolahkah, yang lebih tahu tentang kita sehingga ia-lah yang lebih berhak menentukannya?? Atau kitakah yang merasa terbebani dengan tuntutan tersebut??
"Menanti dan menanti" kata itulah yang kita rasakan, padahal menanti adalah hal yang paling membosankan.
Kawan… hikmah itu mudah didapat kalau kita mau melihat dan mencarinya, apalagi dari kegagalan yang begitu berat. Niat belajar untuk mencari nilai bukan hakikat seorang pelajar, apalagi niat belajar untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah. Tapi hakikat niat seorang pelajar adalah untuk menghilangkan kebodohan serta mencari ridha Allah SWT.
The End
By: Galam el-ilmi