Tantangan Mahasiswa Timur Tengah Sangat Kompleks !

Dibuat pada 10 Januari 2013

Dr.Arwani Wawancara Ekslusif Bersama Dr. H. Arwani Syaerozi, Lc. MA, Alumnus Al-Ahgaff University tahun 2003

Jumlah mahasiswa di Indonesia kini sudah sedemikian banyak,  sehingga  bangsa ini  sudah sedemikian maju bilamana dibandingkan dengan pada 30 dan apalagi 50 tahun yang lalu. Anak muda yang belajar di perguruan  tinggi jumlahnya sudah jutaan orang. Setiap tahun tidak kurang dari 500 ribu calon mahasiswa baru mendaftar ke perguruan tinggi negeri maupun swasta. Jumlah itu masih belum termasuk mereka yang mendaftar ke berbagai universitas di luar negeri baik ke Eropa maupun Timur Tengah.

 

Eskalasi jumlah mahasiswa yang membludak itu, di satu sisi menjadi angin segar bagi masa depan pendidikan bangsa kita, namun di sisi lain,menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa Timur Tengah dalam memainkan kiprahnya. Apalagi,spektrum pemikiran pelajar Indonesia yang mempelajari Islamic Studies tidaklah tunggal. Ada banyak arus pemikiran yang berkembang, seperti mereka yang mempelajari Islamic Studies di Barat, misalnya. Sejauh manakah tantangan mahasiswa Timur Tengah ke depan ?

Berikut wawancara reporter Himmah FM, Dzul Fahmi, bersama Dr. Arwani Syaerozi Lc, MA, alumnus Al-Ahgaff University tahun 2003 yang saat ini menjadi pimpinan Maqashid Centre di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, serta dosen di beberapa universitas di tanah air melalui via e-mail beberapa waktu lalu.

* * *

Ustadz Arwani, boleh kami tahu sedikit cerita dan pengalaman Anda ketika masih menjadi mahasiswa Univ. al-Ahgaff?

Saya tercatat menjadi mahasiswa di fakultas syari’ah dan hukum universitas Al Ahgaff semenjak tahun 1999 hingga akhir 2003. Saat itu jumlah mahasiswa Indonesia masih sedikit, sekitar 27 orang, semuanya putra. Kami merasa sangat dimanja oleh pihak lembaga, setiap ada kegiatan yang diadakan oleh kampus Al Ahgaff, kami –mahasiswa Indonesia- selalu diposisikan istimewa.  

Pada awal kedatangan, sebenarnya saya agak shock dengan kondisi propinsi Hadramaut. Sebelumnya saya membayangkan Hadramaut seperti Dubai atau Abu Dhabi, dimana infrastruktur bangunannya sangat megah dan merupakan kota besar. Tapi ternyata realitasnya sangat jauh berbeda, atau bahkan berbalik 180 derajat. Pesawat yang kami tumpangi –saat itu- mendarat di bandara kota Seiyun, landasan pacu-nya saja belum diaspal, masih berupa tanah, sehingga debu-debu berterbangan saat pesawat landing,  sungguh menegangkan tapi sangat terkesan. 

Sejalan dengan putaran waktu, akhirnya saya merasakan enjoy dengan suasana Hadramaut, khususnya kota Tarim. Ada nuansa religi yang khas di kota para wali ini, nuansa yang –saya kira- sulit ditemukan di tempat lain. Keberkahan kota Tarim dan kesejukan petuah para ulamanya membuat saya lupa kampung halaman, asyik dengan aktivitas kuliyah, sehingga waktu 4,5 tahun di kota Tarim seakan hanya dilewati dalam beberapa minggu saja.     

 Menurut Anda, bagaimanakah sistem pembelajaran di Universitas al-Ahgaff ?

Dulu pendidikan S1 di Al Ahgaff ditempuh selama 4 tahun, setelah dua tahun saya di Ahgaff, ada peraturan baru yang menetapkan bahwa jenjang S1 harus ditempuh selama 5 tahun, jadi waktu itu saya masih dalam pola lama, yaitu masa pendidikan selama 4 tahun.

Ada nilai plus dari sistem perkuliyahan Al Ahgaff jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain di Negara Arab, yaitu masih diterapkannya sistem pengkajian kitab-kitab muqorror (buku panduan mata kuliyah) secara harfiyah. Maksud harfiyah di sini adalah mengkaji secara detail lafadz per-lafadz, masalah per-masalah, pasal per-pasal dan bab per-bab. Sehingga para mahasiswa dapat menguasai substansi keilmuan (mata kuliyah), bukan sekedar kulitnya saja.

Di samping itu, pendidikan di Al Ahgaff juga mengedepankan unsur amaliyah (aplikasi ilmu), para mahasiswa diarahkan untuk menjadi sosok yang Alim (pakar) dan Amil (Aplikator), bukan sarjana yang hanya kaya intelektualitas namun miskin moralitas. Dalam hal ini, kita selalu meneladani interaksi keseharian para civitas akademika Al Ahgaff juga para habaib dan masyayikh kota Tarim yang selalu mengedepankan akhlakul karimah.        

Ustadz adalah salah satu contoh sukses alumni Ahgaff di Indonesia, apakah ada rahasia sukses belajar di balik keberhasilan Ustadz?

Saya menganggap diri saya masih sangat jauh dari kata “sukses” yang anda sematkan, namun jika yang dimaksud dengan “sukses” adalah berhasil menyelesaikan pendidikan di Al Ahgaff, maka saya termasuk kriteria, karena banyak juga mahasiswa dari Indonesia dan non Indonesia yang tidak mampu menyelesaikan penidikan di Al Ahgaff, sehingga mereka harus drop-out dan pulang ke tanah air di tengah proses pendidikan. (Al hamdulillah, waktu itu saya adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia yang meraih predikat Jayyid Jiddan).

Prinsip saya dalam mengarungi dunia pendidikan adalah; Man Jadda Wajada (orang yang bersungguh-sungguh pasti akan meraih targetnya), ungkapan ini cukup sederhana namun sangat sulit diaplikasikan. Maka untuk mengaplikasikannya kita harus mengawal prinsip tadi dengan tiga hal, yaitu: kedisiplinan, konsisten dan kesabaran. 

Ustadz Arwani juga telah melanglang buana di beberapa universitas di tanah Arab setelah menyelesaikan studi di Univ. al-Ahgaff. Adakah trik khusus untuk bisa menembus Universitas-universitas tersebut guna melanjutkan studi pasca sarjana? Dan bidang apakah yang menjadi pilihan Ustadz? 

Selesai dari Al Ahgaff, alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk melanjutkan studi pascasarjana (S2) di Universitas Ezzitouna Tunisia, saya diterima di Departemen Kajian Islam dengan konsentrasi Maqasid Syari’ah. Tesis yang saya tulis waktu itu adalah tentang “Maqasid Syari’ah perspektif Ibnu Hazm Al Andalusi”, saya melakukan riset atas pemikiran Ibnu Hazm melalui karya-karyanya, seperti Al Ihkam Fi Ushul Al Ahkam dan Al Muhalla. Kesimpulan yang saya dapatkan, ternyata tokoh madzhab Adz Dzohiri (literalis) ini memiliki konsep sendiri dalam memahami Maqasid Syari’ah. Dalam penyusunan tesis ini saya dibimbing langsung oleh pakar Maqasid Syari’ah dari Tunisia Prof. Dr. Nuruddin Al Khadimi.   

Selesai dari pendidikan di universitas Ezzitouna Tunisia, saya melanjutkan studi doktoral (S3) di Departemen Kajian Islam universitas Mohammed V Rabat Maroko. Di kampus ini, saya meneruskan riset saya dalam bidang yang sama, Disertasi saya seputar Maqasid Syari’ah dalam proses pengambilan hukum fikih; perspektif Ilkiya Al Harrasi, ia adalah seorang tokoh mufassir madzhab Syafi’iyah. Pandangan-pandangan tafsirnya dapat ditela’ah melalui kitabnya Ahkam Al Qur’an.   

Dari pengalaman belajar di dua kampus di atas, saya menyimpulkan bahwa eksistensi universitas Al Ahgaff diakui oleh lembaga-lembaga perguruan tinggi di Negara Arab lainnya, ijazah S1 Al Ahgaff sudah disetarakan, sehingga lulusannya dapat melanjutkan ke mana saja. Bahkan standar kompetensi keilmuan para alumninya tidak diragukan, paling tidak ketika saya melanjutkan ke program pascasarjana di dua Negara tadi, al hamdulillah saya mampu meraih predikat Musyarrof Jiddan (Summa Cume Laude).   

Jika saat ini ada alumni Al-Ahgaff yang ingin melanjutkan studi pascasarjana ke universitas-universitas di Negara Arab lainnya, maka ia harus aktif mencari informasi, baik melalui internet maupun melalui relasi yang ada di Negara tujuan.

Mengapa Ustadz lebih memilih bidang Maqasid Syari’ah? Apakah ada cerita khusus dibaliknya atau sumber ide?

Awal perkenalan saya dengan kajian maqasid syari’ah adalah saat menyusun skripsi di kampus Al Ahgaff. Saat itu saya menulis tentang dalil Saddu Adz Dzara’i yang dibimbing langsung oleh Syaikh Abdullah Asy Syenqity. Tema ini ternyata sangat erat dengan maqasid syari’ah, kebetulan dosen pembimbingnya pun seorang bermadzhab Malikiyah, merupakan madzhab yang paling lantang mengusung wacana maqasid syari’ah.

Minat saya dalam kajian maqasid syari’ah berlanjut setelah diterima di Universitas Ezzitouna Tunisia dan kemudian di universitas Mohammed V Maroko, di mana kedua Negara tersebut dikenal sebagai gudang bagi khazanah maqasid syari’ah. Kedua wilayah yang dikenal dengan Maghrib Arabi ini (mencakup Andalusia) telah melahirkan tokoh-tokoh maqasid syari’ah, di antaranya adalah Abu Ishak Asy Syatibi (kitab Al Muwafaqot), Muhammed At Tohir Bin Asyur (kitab Maqasid As Syari’ah Al Islamiyah), Alal Al Fasi (kitab Maqasid As Syari’ah Wa Makarimuha), Nuruddin Al Khodimi (kitab Ilmu Al Maqasid As Syar’iyah), Ahmad Roisuni (Nadzariyat Al Maqasid Inda Asy Syatibi) dll.         

Di samping itu, hal yang paling fundamental dalam pilihan konsentrasi saya di bidang maqasid syari’ah adalah ingin berkontribusi dalam melengkapi pemahaman ushul fikih di kalangan intelektual muslim di Indonesia, agar wacana maqasid syari’ah tidak hanya difahami oleh kalangan madzhab Malikiyah saja, agar ushul fikih di Indonesia jangan hanya sebatas pada masa’il lafdziyah (masalah-masalah terkait teks) saja. Padahal peran maqasid syari’ah dalam proses istinbath Al ahkam dan menjawab problematika umat sangatlah signifikan.  

Menurut sumber berita, Ustadz kini telah mendirikan Maqasid Center di Indonesia. Bergerak di bidang apa lembaga yang Ustadz dirikan ini? Bagaimana pula peluang pergerakannya di Indonesia?

Sebenarnya “Maqasid Center” belum didirikan secara resmi, akan tetapi saya dengan beberapa teman yang memiliki latar belakang pesantren, pernah membuka program short cours maqasid syari’ah selama 1 semester di lingkungan Unversitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Pesertanya kebanyakan dari kalangan mahasiswa pascasarjana, bahkan di antara mereka ada yang statusnya sebagai dosen di beberapa kampus di ibu kota.

Dari pengalaman ini, kemudian saya dipercaya untuk menjadi direktur program S2 Pendidikan Kader Ulama konsentrasi Ushul Fikih & Maqasid Syari’ah, yang diikuti oleh 25 orang dari berbagai daerah.      

Sesuai dengan pengalaman Ustadz di lapangan, kira-kira tantangan apa saja yang akan dihadapi alumni al-Ahgaff setelah kembali di tanah air ?

Kita akan berhadapan dengan realitas masyarakat yang majemuk dengan problematika yang sangat kompleks. Ketidakmerataan kesejahteraan misalnya, telah menimbulkan problem-problem sosial dan keagamaan yang akut. Di mana norma-norma agama Islam -oleh sebagian masyarakat muslim- tidak lagi digubris demi untuk menghasilkan sesuap nasi. Sementara sebagian kalangan, hidup bermewah-mewahan dengan menghamburkan kekayaan. 

Atau terbatasnya akses pendidikan bagi kalangan yang tidak mampu, sehingga banyak di antara mereka yang “dipaksa oleh keadaan” untuk menjadi anak jalanan, jauh dari sentuhan agama. Padahal dana pendidikan sudah digelontorkan melalui APBN dan APBD, tapi entah kemana raibnya.

Dalam ranah keagamaan, kita akan dihadapkan pada persoalan-persoalan klassik yang masih tetap menggelitik. Misalnya, perang urat saraf antar sesama muslim akibat perbedaan persepsi dalam al masa’il al far’iyah (masalah fikih), atau tindakan intimidasi dan kekerasan yang mengatasnamakan agama. 

Itu semua sebagai deskripsi singkat dari keadaan yang ada di tanah air, dan kita semua –sebagai generasi muda- harus siap menghadapi dan mencarikan solusinya.

 Secara singkat, nilai plus mahasiswa yang belajar ke Timur Tengah itu apa ?

Bisa mempelajari Islam langsung dari titik geografisnya, di mana kita akan menemukan para ulama yang mumpuni dalam berbagai disiplin ilmu agama. Mengkaji bahasa Arab langsung dari masyarakatnya, di mana kita bisa praktek berkomunikasi dengan mereka. Dan memahami budaya Arab langsung dari lapangan, sehingga akan memperkaya pengetahuan kita tentang tabiat dan watak manusia.    

Banyak pihak yang menyatakan bahwa Islamic Studies di Timur Tengah masih konservatif. Menurut Ustadz ?

Saya kira tidak demikian, kalau yang dimaksud dengan Islamic Studies adalah kajian substansi, maka apa yang diterapkan di Timur Tengah, khususnya di Hadramaut sangat tepat, karena para pelajar akan mendalami Islam secara komprehensif. 

Akan tetapi, kalau yang dimaksud dengan Islamic Studies adalah kajian metodologi, maka apa yang diterapkan di beberapa Negara Arab tidak mengenai target, alias jauh panggang dari api. 

Intinya, kalau dalam proses pendidikan para mahasiswa diberi ruang untuk mendiskusikan setiap topik kajiannya, kemudian para pengampu mata kuliyah merespon setiap persepsi dan argumen dari perserta didiknya, mereka tidak saling menutup diri atas informasi yang disodorkan oleh kedua belah pihak, maka bukan sesuatu yang konservatif.

Bisa Dijelaskan lebih spesifik ?

Artinya: di kebanyakan negara Arab (khususnya di Hadramaut Yaman) fokus kajian Islam adalah mendoktrin ajaran Islam kepada mahasiswa, berarti penekanannya pada substansi ajaran islam. (Islamic studies adalah kajian substansi)

Adapun kajian Islam secara Metodologi, memposisikan islam sebagai obyek yg harus dikaji dari berbagai dimensinya, harus dikritik, dikaji ulang sejarahnya, dikomparasikan dengan Agama lain, adakah unsur saling terkait dan terpengaruh antara satu dan lainnya. alam proses ini sama sekali tidak ada doktrin (dakwah).

Nah, kalau demikian, maka islamic studies secara metodologis adanya di negara barat dan hanya sebagian kecil (sangat jarang) di negara islam.

Sesuai pengalaman anda studi dari Hadramaut hingga negara Arab-Maghriby. Kira-kira sistem apa yang tidak ada di hadramaut yang bsa diadopsi dari negara-negara maghrib begitu pula sebaliknya. sehingga nantinya antara kedua madrasah ini bsa saling melengkapi?

Sistem pendidikan Islam di Hadramaut menekankan pada aspek amaliyah, sementara sistem pendidikan Islam di wilayah Maghrib Arabi (Tunisia, Aljazair, Maroko) menekankan pada aspek ilmiyah.

Saat ini kita perlu mengkombinasikan kedua model tersebut, agar generasi muda kita tidak hanya memahami Islam dari sisi trasedental saja, akan tetapi juga memahaminya dari sisi sosial, politikal dan historis kultural.

Dengan banyaknya spektrum serta dinamika pemikiran yang berkembang di tanah air. Seperti keberadaan mahasiswa Indonesia yang melakukan Islamic Studies di Barat. Kira – kira peran apa yang bisa diambil mahasiswa Islam di Timur Tengah ?

Kalau pendidikan kita terkait kajian Islam atau sastra Arab, maka para alumni Timur Tengah - saat kembali ke tanah air- akan lebih dianggap sebagai rujukan oleh masyarakat. Karena mayoritas penduduk Negara kita adalah muslim dan Islam berasal dari jazirah Arabiyah.   

Saya kira stigma positif ini harus diimbangi dengan kompetensi keilmuan dan kualitas akhlak kita.  Kalau tidak demikian, maka secara perlahan kepercayaan masyarakat pada alumni Timur Tengah akan pudar dan hilang. 

Perlu diingat, bahwa di tanah air kompetisi antar komunitas alumni luar negeri cukup ketat, sehingga kita perlu melakukan koordinasi yang solid dan komunikasi yang intens antar sesama alumni Timur Tengah secara umum dan alumni Al Ahgaff secara khusus, agar kita bisa saling memberikan peluang dalam berkiprah.  

 Sebagai penutup, mohon Ustadz memberikan pesan dan motivasi bagi kami untuk lebih fokus dengan studi dan cara menatap masa depan…

Kita harus menguasai khazanah kitab turots, setelah itu kita berusaha menjadikan pesan-pesan turots sebagai spirit dalam meniti kehidupan. Dengan demikian kita akan menjadi generasi yang mampu mendialogkan antara teks dan konteks, mampu menjembatani antara sejarah dan realita. Bagaimanapun juga “Al Insan Ibnu Zamanihi”. (Manusia dipengaruhi oleh zamannya).

Curicullum Vitae Narasumber

Nama Lengkap: Dr. H. Arwani Syaerozi, Lc. MA

Tempat Tanggal Lahir: Cirebon, 17 Juni 1980 

Anak ke : 7 Dari 7 Bersaudara

Nama Ayah: H. Syaerozi Abdurohim (Alm)

Nama Ibu: Hj. Tasmi’ah Syaerozi (Alm)

Nama Istri: Abidah Thoyibah

Nama Anak: Ahmad Nail

Alamat Rumah: Pondok Pesantren Assalafie, Jl. Gondang Manis No. 52 Babakan Ciwaringin Cirebon Kp. 45167 Jawa Barat. Tlp. (0231) 342 176. Hp. 081 324 414 694 

Riwayat Pendidikan:Sekolah Dasar (SD) Negeri I Babakan Ciwaringin (1992)

:Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri I Babakan Ciwaringin (1995)

:Madrasah Aliyah (MA) Al Hikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin (1998)

:S1 Syari’ah & Hukum Universitas Al Ahgaff Yaman (1999 - 2003)

:S2 Maqasid Syari’ah Universitas Ezzitouna Tunisia (2005- 2007)

:S3 Maqasid Syari’ah Universitas Mohammed V Maroko (2007 - 2011)

 

Karir Organisasi: Katib Syuriah PCINU Yaman (2001 - 2002)

: Ketua Tanfidziyah PCINU Maroko (2009 - 2010)

: Wakil Sekjend Badan Kerjasama PPI Se- Timur Tengah & Sekitarnya (2007 - 2008)   

: Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Barat (2012 - 2017)

: Wakil Sekretaris Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU) Jawa Barat (2011 - 2016)

: Ketua Lajnah Pentashih Kitab Tasawuf  JATMAN Pusat (2012 - 2017)

Aktivitas Saat ini: Dosen di pascasarjana IAIN Syaikh Nurjati Cirebon, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon, ISIF Cirebon dan INISNU Jepara.  

Direktur program S2 kader ulama, kerjasama Ma’had Aly Al Hikamus Salafiyah Pesantren Babakan Ciwaringin dengan IAIN Syaikh Nurjati Cirebon.

Staf pengajar di Pondok Pesantren Putra Putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon 

 

 

Tulis Komentar


Kode keamanan
Segarkan