Membentuk Pribadi Wanita Muslim*

Dibuat pada 15 Agustus 2011

Siapakah Wanita Muslim?

Jika diajukan pertanyaan kepada kita, siapakah wanita muslim? Sebuah pertanyaan klasik yang selalu menarik untuk menjadi pembahasan. Wanita begitu sering menjadi bahan perbincangan dan bahasan majlis-majlis ilmiah. Belum lagi jika dipasangkan dengan Islam, wanita semakin menarik untuk digali mulai dari bagaimana Islam memposisikan wanita, persamaan hak dan kewajibannya dengan kaum pria, dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini, sosok wanita muslim yang sebenarnya diinginkan oleh umat Islam, hampir nyaris hilang. Wanita yang berwatak lemah lambut, penuh kasih sayang, keibuan, bisa mengayomi, penuh dengan perhatian, sudah jarang kita temukan. Sosok itu bagai tergantikan oleh kaum wanita yang seakan berteriak menunjukkan pada dunia, bahwa wanita merupakan sosok cerdas, berintelektual tinggi, mandiri, dan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan pria. Tapi, apa seperti itu Islam menggambarkan pribadi wanita sebenarnya? Walau mungkin tetap ada beberapa aturan yang memang dibuat sama antara perempuan dan laki-laki, namun Islam tidak melewatkan kodrat wanita yang memang diciptakan dari tulang rusuk pria, dan Nabi Muhammad sangat menganjurkan untuk memperlakukan wanita dengan baik dan lembut, bahkan Rasulullah mengambarkan sebaik-baiknya laki-laki adalah mereka yang berlaku baik kepada perempuan.

Siapakah wanita muslim? Mungkin jika pertanyaan itu hadir, yang ada di benak kita adalah wanita-wanita yang berpakaian tertutup, rapi, dan yang paling penting, menutup rambutnya dengan jilbab, walaupun tidak menutupnya secara sempurna dan benar. Kalau identitas itu yang dijadikan tolak ukur seorang wanita muslim, tentu kini banyak wanita-wanita muslim bertebaran. Jilbab sudah menjadi tren kaum hawa. Memakai jilbab dirasa gaul dan menyenangkan. Namun cukupkah identitas ‘jilbab’ untuk menggambarkan sosok wanita muslim?

Yang banyak kita temui saat ini, wanita-wanita memakai jilbab namun dengan mudahnya mereka bercampur baur dengan laki-laki, berpegangan tangan dengan laki-laki lain, berbicara dengan suara keras, dan tingkah laku lainnya yang sama sekali tidak menunjukkan sosok wanita Islam.

Islam: Pengangkat Derajat Wanita

Sepanjang sejarah menceritakan bagaimana kaum-kaum terdahulu memperlakukan wnaita dengan semena-mena, maka kemudian hanya Islam yang datang dengan membawa misi mengangkat derajat wanita. Islam telah menghargai fithrah wanita dan menjadikan wanita sebagai unsur penyempurna hidup kaum pria. Islam menggambarkan bahwa dalam diri wanita diciptakan ketenangan bagi kaum pria. Allah swt berfirman dalam surat Ar Rum ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Dalam Islam, prinsip yang paling diusung adalah persamaan antara manusia, baik antara laki-laki dan perempuan, maupun antar bangsa, suku, dan keturunan. Perbedaan yang digaris bawahi yang kemudian meninggikan atau merendahkan posisinya di mana Tuhannya hanyalah pengabdian dan ketaqwaan seorang hamba. Allah swt berfirman dalam surat Al Hujuraat ayat 13:

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha teliti.”

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al Quran juga Sunnah Rasul yang menunjukkan bahwa Islam sama sekali tidak merendahkan posisi kewanitaan seorang wanita.

Pribadi Wanita Muslimah: Hubungan dengan Tuhannya

Menggambarkan pribadi seorang wanita muslimah, seharusnya yang pertama kita lihat adalah bagaimana hubungannya dengan Tuhannya. Walaupun hubungan itu tidak tampak nyata, namun wanita muslimah yang sesungguhnya adalah mereka yang terus menjaga dengan baik hubungannya bersama Tuhannya. Wanita muslimah memiliki iman yang tinggi kepada Allah, yang bisa tampak melalui amal-amal sholihnya dan sikap qana’ah serta tawakkal yang tinggi atas apa yang ditetapkan Allah dalam hidupnya. Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran ayat 159:

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepadan Allah. sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.”

Saya teringat kisah sayyidah Hajar, istri Nabi Ibrahim as, ketika ia ditinggal oleh Nabi Ibrahim as bersama Nabi Ismail di Makkah. Dan ketika itu Makkah masih belum berpenduduk dan tidak ada air, ketika ia ditinggal, ia hanya berdua dengan Nabi Ismail yang ketika itu masih bayi. Namun sayyidah Hajar sama sekali tidak menolak ketika Nabi Ibrahim memintanya untuk tinggal. Karena ia tahu, bahwa itu adalah perintah Allah. maka ketika ia tahu bahwa yang memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkannya adalah perintah langsung dari Allah, sayyidah Hajar langsung ridlo dan menerima dengan pasrah perintah tersebut. Dan tanpa ragu, ia merelakan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan mereka berdua.

Dapat dibayangkan betapa sulit keadaan yang dihadapi sayyidah Hajar. Ditinggal berdua dengan bayinya di tempta yang tidak ada air, tidak ada kehidupan sama sekali. Tapi, ketika tahu bahwa itu perintah Tuhannya, Allah swt, tanpa ragu ia menerima dengan lapang karena didasari iman yang tinggi. Subhanallah… Masih bisakah kita menemukan sosok wanita muslimah seperti itu kini? Yang dengan imannya kepada Tuhannya yang begitu tinggi, mampu mengalahkan keadaan sesulit apapun.

Pribadi wanita muslimah dalam menjaga hubungan dengan Tuhannya juga dapat dilihat dari sikapnya berikut:

Tidak pernah lalai dalam menunaikan shalat wajib waktu, rasulullah saw bersabda, “Apabila sesorang perempuan shalat lima waktu, puasa pada bulannya, mentaati suaminya, dan menjaga kemaluannya, maka dia akan masuk surga dari puntu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Ahmad)

Menjalankan semua perintah Allah dengan niat ikhlas dan mengharap ridloNya.

Memakai hijab dan berpakaian tertutup sesuai tuntunan syar’i. Allah swt berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 59: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Menjaga diri dan pandangan dari laki-laki yang bukan mahram.

Menjaga misi dakwah untuk menyebarkan agama Allah.

Pribadi Wanita Muslimah: Dalam Lingkungan Sosial

Selain hubungan dengan Tuhannya, wanita muslimah juga tetap memikirkan bagaimana menjaga tingkah laku dalam kehidupan sehari-harinya. Wanita muslimah sholihah sangat memperhatikan kualitas kata-kata dan gerak-geriknya. Dalam berkata-kata dan bertingkah laku, wanita muslimah senantiasa menunjukkan kelembutan dan akhlaq yang baik.

Dalam bergaul di masyarakat, wanita muslimah tetap memperhatikan aturan-aturan Islam, maka ia tidak seenaknya bergaul dengan siapa saja. Ia tetap menjaga kehormatan dirinya, tanpa melupakan kodratnya sebagai wanita. Sosok wanita muslimah pasti akan disukai orang banyak. Karena sikapnya yang fleksibel namun tidak memamerkan keindahannya sebagai wanita. Akhlaqnya yang baik, wujud dari apresiasi hadits-hadits rasulullah yang memang begitu menekankan akhaqul karimah. Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada yang dapat memberatkan timbangan selain akhlaq yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Selain memiliki sopan santun dan kelembutan, wanita muslimah juga bersikap jujur dan terbuka dalam bergaul. Terbuka di sini diartikan mudah berbagi dan tolong menolong dalam hal kebaikan. Wanita muslimah tidak malu-malu menasihati kawannya yang perlu diingatkan. Wanita muslimah juga tidak segan berbagi ilmu dan pengalaman baik dalam bergaul. Bahkan, kehidupan sosialnya itu dijadikkan alat untuk menyebarkan agama Allah swt. Ilmu yang diketahuinya tidak hanya disimpan dan dimanfaatkan sendiri, namun disebarkan dan diamalkan agar memberi pengaruh baik bagi masyarkat di sekitarnya, baik saudara, sahabat, dan lain-lain.

Dalam bergaul, wanita muslimah tidak pernah berbohong dan selalu jujur. Karena fithrah sosok wanita muslimah adalah pribadi yang jujur, mengikuti pribadi Rasulullah saw yang sampai diberi gelar ‘Al Amiin’, yang berati yang terpercaya oleh kaumnya. Nabi Muhammad saw juga bersabda, “..dan barang siapa yang menipu kita, maka bukan termasuk bagian dari kita.” (HR. Muslim).

Akhlaq lain yang perlu diperhatikan wanita muslimah dalam bergaul antara lain:

Senantiasa menepati janji, Allah swt berfirman dalam surat Al Maaidah ayat 1: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji!

Menempatkan sifat malu pada tempatnya. Pada dasarnya wanita merupakan seorang yang pemalu. Namun wanita muslimah bisa menempatkan sifat malunya pada temptanya, misalnya, ia malu ketika mengumbar auratnya di depan orang yang bukan mahram, tapi ia tidak malu dalam urusan menimba ilmu.

Tidak ikut campur dalam sesuatu yang bukan urusannya. Rasulullah saw bersabda, “Merupakan baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang bukan kepentingannya.” (HR. Tirmidzi)

Adil dalam menyikapi suatu masalah. Sikap ini sangat dibutuhkan oleh wanita muslimah dalam bersosialisasi. Setiap masalah yang datang, tidak diputuskan semena-mena. Dalam bersikap pun ia tetap menimbang baik buruk dan penting tidaknya. Allah swt berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 58: “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hokum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkan dengan adil.”

Menjaga lisan dari ghibah dan adu domba. Ini yang masih sulit dijauhi oleh kaum wanita. Kebanyakan dari kaum wanita malah memiliki hobi menggosip. Padahal, balasan dari ghibah dan adu domba adalah sangat berat. Allah swt berfirman dalam surat Al Hujuraat ayat 12: “…dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” Rasulullah juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang-orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Pribadi Wanita Muslimah: Sosok Istri Penyejuk Hati

Sosok ini merupakan salah satu peran penting yang dipikul setiap wanita. Tugas seorang istri tidaklah sedikit, namun, ketika seorang wanita bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik, maka tidak ada balasan yang pantas untuknya selain surgaNya. Bahkan rasulullah saw dalam haditsnya mencirikan seorang wanita shalihah adalah yang taat kepada Tuhan dan RasulNya, serta taat kepada suaminya. Allah swt menggambarkan dalam firmanNya:

“Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka.” (QS. An Nisa: 34)

Seorang wanita muslimah akan sepenuhnya melayani suaminya dan selalu memenuhi segala permintaannya, selagi tidak keluar dari ajaran syari’at. Ia tidak pernah mengeluh dengan keadaan suaminya, bahkan sebaliknya, ia justru bisa menjadi penentram jiwa bagi suaminya. Bisa kita contoh sosok ummul mukminin, sayyidah Khodijah, istri Rasulullah yang paling beliau cintai. Sayyidah Khodijah selalu bisa menentramkan hati Rasulullah dan selalu setia mendampingi beliau dalam dakwah-dakwah pertamanya. Tatkala rasulullah saw ketakutan mendapat wahyu pertama kali, sehingga tubuhnya gemetar, sayyidah Khadijah dengan sabar menenangkannya dan ikut berpikir mencari jalan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan ketika Rasulullah sudah mendapat risalah untuk menyebarkan Islam, sayyidah Khodijah dengan setia mengikuti beliau masuk ke agama Islam dan berjuang bersama beliau. Subhanallah…sungguh nikmatnya jika semua wanita muslimah bisa menjadi sosok istri seperti sayyidah Khodijah.

Sudah seharusnya seorang wanita muslimah mengerti betul kewajibannya yang begitu tinggi kepada suaminya. Betapa penting makna suami bagi istri, bahkan Rasulullah sampai bersabda, “Seandainya aku diperbolehkan memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, maka akan aku perintahkan perempuan bersujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi).

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan seorang istri terhadap suaminya:

Senantiasa menjaga kehormatan dirinya dan harta suami jika sang suami tidak ada di rumah.

Selalu bisa menyenangkan suami dengan akhlaq yang baik dan kasih sayang.

Tampil cantik, serta melembutkan dan memperindah penampilan di depan suami.

Rela dengan pemberian suami dan tidak menuntut sesuatu yang memberatkan suami

Mampu selalu meredam amarah suami, sabar menghadapi ujian dalam rumah tangga dan tawakal terhadap segala yang sudah diusahakan.

Pandai menciptakan suasana sejuk dan nyaman di dalam rumah.

Selalu menghiasi dirinya dengan sikap malu dan tawaddlu’, jujur dan benar, tidak berkata dusta atau bersumpah palsu, tidak meng-ghibah atau mencela kekurangan suami.

Pribadi Wanita Muslimah: Ibu yang Penuh Kasih Sayang

Setiap wanita pastinya akan menjadi seorang ibu. Bahkan mungkin hampir setiap wanita mendambakan untuk menjadi seorang ibu. Dan seorang wanita muslim tentunya tidak menganggap remeh tugas menjadi ibu. Ketika ‘gelar’ ibu sudah digapai, dengan artian diberi titipan oleh Allah berupa anak, tanggung jawab dan kewajiban seorang wanita pun bertambah, dan wanita muslim harus tahu betul kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Ibu adalah first madrasah bagi anak-anaknya. Sebelum mereka mengenyam bangku Play Group, TK, SD, dst, terlebih dahulu sang ibu yang secara langsung dan tidak langsung  mengajari mereka banyak hal. Dalam masa pertumbuhan yang gemilang, di mana segala sesuatu diserap dengan cepat oleh si anak, didikan sang ibu lah yang menentukan bagaimana pribadi anak tersebut ke depannya. Akankah ia menjadi sosok yang nakal, malas, dan tidak disiplin? Atau sebaliknya, ia menjadi sosok anak yang penurut, rajin, dan pandai mengatur waktu dengan baik?

Maka sudah seharusnya ketika menjadi seorang ibu dan mendapat amanah dari Allah, kita tidak main-main dalam menjaga amanah tersebut. Jangan sampai waktu kita habis hanya untuk pekerjaan atau urusan lain sampai membuat perhatian dan tugas utama kita dalam mendidik anak terbengkalai.

Seorang ibu yang baik hendaknya menyadari betul peran dan kewajiban dasar seorang wanita sebagai ibu bagi anak-anaknya. Ia kosongkan waktunya untuk mendidik anak-anaknya. Ia bahagia melihat anak-anaknya sukses dalam hal akhlak dan amal. Ini tidak mungkin terjadi jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya.

Selain masalah pendidikan dan perhatian total untuk anak, seorang ibu juga harus bisa menunjukkan kasih sayang dan cinta terhadap anaknya. Karena lingkungan yang penuh dengan kasih sayang akan memberi pengaruh positif untuk perkembangan psikologis si anak. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Rasulullah dalam sabda beliau, “Perbanyaklah mencium anak-anakmu, karena setiap ciuman memiliki derajat tersendiri di surga.” Kasih sayang terhadap anak akan memberikan dampak positif dan manfaat, di antaranya:

♥    Kasih sayang akan mendatangkan kesenangan dan kegembiraan.

♥    Anak belajar kasih sayang dari orang tuanya sehingga bisa menerapkannya kepada orang lain.

♥    Munculnya kepercayaan diri.

♥    Memotivasi anak untuk melakukan pelbagai kegiatan yang mendatangkan kesuksesan.

♥    Mampu menarik simpati anak.

Sebuah untaian sya’ir memberi pesan mendalam untuk para wanita muslimah dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu:

Seorang ibu itu adalah kampus, jika engkau persiapkan,

berarti telah engkau persiapkan bangsa yang berkualitas

Seorang ibu adalah taman,

maka jika engkau merawatnya dengan siraman air

Tentu akan tumbuh berdaun rindang

Seorang ibu adalah…sang maha guru pertama

Pengaruh-pengaruh mereka memenuhi seluruh cakrawala.

Tarbiyah Wanita Muslimah

Setelah mengetahui bagaimana sosok pribadi wanita muslimah sebenarnya, tentu semua terasa berat dalam pengaplikasiannya. Maka dari itu, sangat diperlukan ilmu dan wawasan luas bagi wanita muslim sehingga dapat lebih memperkokoh kepribadiannya dan semua yang ia lakukan benar-benar berasaskan ajaran Islam dan semata-mata mencari ridlo Tuhannya.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa wanita merupakan komponen penting dalam sebuah keluarga dan masyarakat. Baik tidaknya wanita akan sangat mempengaruhi baik tidaknya keluarga dan masyarakat. Dalam Islam, predikat tertinggi yang disematkan kepada wanita adalah ‘wanita sholihah’. Nabi Muhammad saw bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim)

Namun tentunya, predikat sholihah tersebut tidak bisa begitu saja didapatkan oleh sembarang wanita. Sebagaimana yang sudah kami jelaskan cukup panjang di atas, maka langkah pertama yang mesti ditempuh oleh wanita muslim dalam membentuk pribadi yang sholihah, adalah dengan melakukan tarbiyah kepada diri sendiri. Setiap manusia dianugerahkan akal oleh Allah swt untuk berpikir, sehingga bisa mengendalikan dirinya dengan baik, sesuai tuntunan akhlaq yang diajarkan dalam Islam.

Wallahu a’lam

Semoga bermanfaat

*Atina Balqis
(mahasiswi tingk3 fak. Dirasat Islamiyah Kuliah Banat Univ Al Ahgaff)

Tulis Komentar


Kode keamanan
Segarkan