Peran Islam dalam Budaya (bagian 1)

Dibuat pada 26 Februari 2012

Salam hangat untuk para sobat Himmah dimanapun berada, semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, amin. Melihat budaya yang merupakan jati diri sebuah bangsa akhir-akhir ini mulai memudar, maka kesempatan kali ini saya akan membahas tentang peran Islam dalam budaya.


Pendahuluan

Di dunia ini banyak sekali terdapat kebudayaan. Secara global kebudayaan itu terbagi menjadi dua, budaya Barat dan budaya Timur. Dan setiap budaya memiliki faktor pembentuk terhadap budayanya masing-masing.

Berikut sebagian ciri-ciri kebudayaan Barat:
•    Cara hidup yang bebas.
•    Sistem politik yang dianut adalah komunisme dan kapitalisme.
•    Kurang menjunjung norma agama dan kesopanan.

Dan sebagian ciri-ciri kebudayaan Timur adalah:
•    Cara hidup yang dapat dikatakan kaku dan terikat.
•    Sistem politik yang dianut secara mayoritas adalah demokrasi.
•    Sangat menjunjung tinggi norma agama dan kesopanan.

Dari ciri-ciri di atas bisa dibedakan antara budaya Barat dan budaya Timur. Namun sekarang budaya Barat telah mendominasi segala aspek kehidupan manusia serta telah menguasai dunia, tak luput negara kita tercinta, Indonesia. Padahal seharusnya budaya Timur yang dikenal dengan ciri khas kesantunan dan sifatnya yang agamis, lebih menjunjung tinggi norma agama dan norma susila, lebih mengagungkan nilai ketuhanan dan kesantunan itu semua harus kita tanamkan dan kokohkan dalam hati.

Adanya budaya sangat berguna bagi manusia atau masyarakat untuk melindungi diri terhadap alam, mengatur hubungan antar manusia dan sebagai wadah dari segenap perasaan manusia. Apalagi mengingat bahwasannya manusia adalah makhluk sosial, sehingga dalam melakukan interaksi dengan individu lain atau dengan kelompok lain manusia mempergunakan budaya, seperti bahasa, sopan santun dan adat istiadat tertentu sehingga tercipta tata pergaulan yang harmonis dan saling bekerja sama.

Faktor-faktor Pembentuk Kebudayaan

1.    Letak geografis
2.    Iklim
3.    Cuaca
4.    Pola pikir
5.    Agama

Maksud dari faktor-faktor tersebut adalah faktor-faktor yang mendukung akan terbentuknya sebuah kebudayaan. Dan Faktor-faktor inilah yang menyebabkan setiap budaya itu tidak lebih baik daripada budaya yang lain, begitu juga setiap budaya itu sesuai dengan tempatnya masing-masing tidak untuk yang lain.

Dan dari adanya faktor-faktor pendukung tersebut lahirlah jati diri sebuah bangsa. Nah, ketika kebudayaan sebuah bangsa itu terombang-ambing maka terombang-ambing pula lah jati diri bangsa.

Dalam masyarakat terdapat dua unsur yang berlawanan, yaitu:
1.    Unsur statika
Yaitu unsur-unsur dalam masyarakat yang cenderung mempertahankan suatu keadaan untuk tetap (tidak berubah). Dan golongan yang termasuk dalam unsur ini adalah golongan masyarakat yang berusaha mempertahankan kebudayaannya, tidak terbawa dan tidak terlena oleh budaya-budaya asing.
2.    Unsur dinamika
Yaitu unsur yang menghendaki adanya perubahan. Dan golongan yang termasuk dalam unsur ini adalah golongan masyarakat yang mudah  terpengaruh oleh budaya asing.

Sebenarnya Masuknya budaya asing ke suatu negara merupakan hal yang wajar. Karena tidak semua budaya asing itu memberikan dampak negatif terhadap suatu bangsa, dan tidak menutup kemungkinan budaya asing tersebut akan memberikan input-input yang akan berpengaruh terhadap perkembangan di negaranya, perkembangan perekonomian misalnya.

Maka sebenarnya boleh-boleh saja suatu bangsa mengambil dan meniru budaya asing, akan tetapi dengan catatan budaya asing tersebut sesuai dengan kepribadian suatu bangsa. Yakni kita harus selektif terhadap budaya-budaya asing yang masuk.

Berikut contoh-contoh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya kita, Indonesia:
1.    Egois
Yaitu sifat mementingkan diri sendiri atau individualisme. Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki aneka keunggulan di masa lalu yang bisa menjadi inspirasi generasi saat ini. Namun karena adanya penjajahan maka pola hubungan antar individu dan sifat gotong royong akhirnya bergeser. Misalnya dalam bahasa Jawa 'tepo seliro' yang berarti tenggang rasa sangat melekat di masyarakat Jawa, namun kadang istilah ini jarang sekali dipraktekkan.
2.    Matrealisme
Yaitu pandangan yang mengutamakan materi daripada yang lainnya.
3.    Sekularisme
Yaitu suatu paham yang mengajarkan bahwa moralitas  tidak perlu diajarkan pada ajaran agama, yakni memisahkan antara agama dan negara.
4.    Elitisme dan eksklusifisme
Yaitu pikiran atau pandangan dari seseorang yang merasa dirinya merupakan orang atau sekelompok orang yang terpandang atau berderajat tinggi hingga memandang orang lain secara rendah.
5.    Konsumtif
yaitu sifat seseorang yang suka membelanjakan uangnya untuk barang-barang yang tidak menghasilkan manfaat, yakni seseorang yang suka berfoya-foya.
6.    Glamoristik
Yaitu suatu sikap atau gaya hidup yang bermewah-mewahan. Seperti halnya bersaing dalam suatu merk barang, mengunggul-unggulkan bahwa barangnya adalah yang terbaik dan ber-merk.
Contoh-contoh di atas sama sekali tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Oleh karenanya, mari kita galangkan persatuan kita untuk menghidupkan kembali budaya Indonesia yang perlahan mulai mengikis di hati warga.

Perkembangan Agama dan Budaya Islam di Indonesia

Sejak abad ke-1 Hijriah atau abad ke-7 Masehi, Indonesia mulai berkenalan dengan “tradisi” Islam, meskipun frekuensinya tidak terlalu besar. Kehadiran Islam secara lebih nyata di Indonesia terjadi pada sekitar abad ke-13 Masehi. Dan pada abad ke-13 ini, agama dan kebudayaan Hindu-Budha yang sebelumnya berkembang pesat mulai bergeser.

Masuknya agama Islam di Indonesia bagaikan angin segar yang membawa kententraman di hati warga, sehingga Islam berkembang pesat pada saat itu. Pesatnya perkembangan Islam di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:
•    Agama Islam disebarkan dengan cara damai.
•    Islam tidak mengenal penggolongan atau kasta.

Pada zaman pra-Islam di Indonesia terdapat penggolongan kasta. Seperti kasta Brahmana (para pendeta), kasta Ksatria (raja, bangsawan dan prajurit), kasta Waisya (pedagang dan buruh menengah), dan Kasta Sudra (petani dan buruh kecil).

•    Ajaran Islam sangat manusiawi dan tidak memberatkan pemeluknya.
Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam)." (QS. Al-Baqarah: 251). Jadi jelas bahwa Islam tidak memaksa seseorang untuk masuk Islam. Salah satunya untuk masuk Islam seseorang tidak dipungut biaya, cukup dengan membaca dua kalimat syahadat. Subhanallah!

•    Islam masuk ke Indonesia tidak dibawa penjajah, melainkan para pedagang, serta didukung oleh para wali songo, para raja, bangsawan, adipati, rakyat biasa, dan para ulama sehingga masyarakat mudah menerima Islam.

Peran Wali Songo dalam Proses Islamisasi di Indonesia

Wali songo adalah tokoh Islam yang memiliki pengaruh besar bagi masyarakat pulau Jawa. Adapun arti 'Wali songo' itu sendiri terdapat beberapa pendapat:
-    Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau 'sanga' dalam bahasa Jawa.
-    Pendapat lain menyebutkan bahwa kata 'songo atau sanga' berasal dari kata 'tsana' yang dalam bahasa Arab berarti mulia.
-    Pendapat lainnya lagi menyebut kata 'sana' berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.

Prinsip-prinsip penyebaran Islam di Indonesia oleh para wali songo dalam berdakwah adalah:
1.    Momong, yang berarti persuasif atau mengasuh.
2.    Momor, yang berarti komunikatif atau bergaul.
3.    Momot, yang artinya akomodatif atau menyesuaikan.

Dengan tiga prinsip tersebut para wali songo mudah diterima masyarakat Jawa karena berkesan tidak memaksa. Para wali songo tersebut tidak langsung memberantas kebudayaan pra-Islam (Hindu-Budha), akan tetapi mereka memanfaatkan, melestarikan dan merefungsikan tradisi-tradisi tersebut serta menjadikannya sebagai perantara dalam dakwah mereka, karena mereka tahu bahwa mayoritas penduduk Jawa bergama Hindu.

Dan dengan masuknya Islam, akhirnya Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua budaya atau lebih) yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan atau material saja tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia. Misalnya:

1.    Ziarah
Ziarah artinya mengunjungi atau sowan (bahasa Jawa). Istilah ini biasanya digunakan untuk mengunjungi makam para wali, mengunjungi kuburan orang mati. Dulu pada zaman pra-Islam tradisi ziarah ini dengan cara menyembah-menyembah kuburan tersebut. Dan setelah Islam datang, Islam tidak menghapus tradisi ziarah ini, akan tetapi merubah cara ziarah tersebut. Seperti dengan membaca yasin, tahlil, dan doa.

2.    Sekaten
Di keraton Yogyakarta, Surakarta, Cirebon perayaan maulid nabi disebut 'sekaten'. Kata sekaten berasal dari kata 'syahadatain' yaitu dua kalimat syahadat yang artinya tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah utusan Allah. Tradisi ini pertama kali diperkenalkan oleh Raden Fatah dari Demak pada abad ke-16. Ribuan orang masuk islam dengan tradisi tersebut. Tradisi ini pada masa Hindu-Budha merupakan grebeg makanan yang dipersembahkan kepada ruh-ruh halus dan kemudian dibuang secara cuma-cuma.
Di Yogyakarta dan Surakarta perayaan sekaten diisi dengan penyucian benda-benda pusaka kerajaan. Sultan juga membagi-bagikan berkah berupa nasi tumpeng berbentuk gunung (gunungan). Nasi gunungan yang dipersembahkan pihak keraton merupakan bentuk ucapan terima kasih atas melimpahnya berkah dan rizki yang diberikan Allah SWT. Dan makna asli gunungan nasi ini berkaitan dengan masa pra Hindu-Budha, namun saat ini dianggap melambangkan alam semesta serta semua isinya dan kebesaran Sang Pencipta.

3.    Bentuk masjid kuno
Kalau kita lihat bentuk masjid-masjid kuno umumnya beratap tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil hingga berbentuk seperti limas itu merupakan akulturasi dari bangunan pura (Hindu).

4.    Gapura masjid Kudus
Jika kita berziarah ke makam Sunan Kudus dan masuk ke dalam masjid Kudus, kita akan melewati sebuah gapura dalam bentuk candi ataupun atap masjid yang berundak. Sunan Kudus tidak merusak candi yang telah terbangun, namun merefungsikan candi itu sebagai gapura menuju masjid Kudus. Dengan demikian, warga kudus yang dulunya beragama Hindu merasa tersanjung dengan kerendahan hati Sunan, dan memutuskan bahwa agama Islam adalah agama yang berbasiskan toleransi.

 

Dari contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa Islam datang tidak untuk menjajah tapi Islam datang secara damai, dan menggabungkan antara budaya Islam dan budaya pra-Islam.


Peran Pemuda dalam Budaya

Setelah mengetahui bahwa budaya adalah jati diri bangsa, maka para pemuda mempunyai peran penting dalam mempertahankan kebudayaan bangsanya, "inna fi aydis syubban amrul ummah, wafi aqdamihi hayatuha". Namun jika kita menilik para pemuda sekarang, kebanyakan seakan-akan tidak tahu menahu bahkan acuh tak acuh terhadap budayanya, malah banyak pemuda sekarang yang cinta dan bangga dengan budaya asing tanpa melihat apakah budaya asing tersebut cocok atau sesuai dengan budayanya sendiri.

Berikut tips-tips untuk mempertahankan suatu budaya:
1.    Kita tanamkan rasa cinta pada agama kita, Islam.

Dengan cara melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya dan selektif terhadap pengaruh globalisasi. Begitu juga dengan menancapkan dalam hati bahwa Islam adalah agama yang murunah (fleksible), sholih (cocok) untuk semua masa, bahkan Islam tidak hanya sholih akan tetapi mushallih (pembenar).

2.    Cinta dan bangga terhadap budaya asli kita, budaya Indonesia.
Budaya Timur yang dikenal dengan ciri khas kesantunan dan sifatnya yang agamis, lebih menjunjung tinggi norma agama dan norma susila, lebih mengagungkan nilai ketuhanan dan kesantunan itu semua harus tetap dipertahankan tidak untuk disingkirkan.

Mengutip pesan syeikh kami (Habib Abdullah Baharun) kepada seluruh santri beliau: "Harapan saya untuk para santri Al-Ahgaff agar selalu dapat meneruskan perjuangan para ulama Indonesia yang telah menyebarkan Islam dengan ahlaqul karimah. Seperti wali songo dan juga KH. Hasyim Asy'ari serta ulama-ulama lainnya yang telah berjasa dalam memajukan Indonesia, berjuang bersama rakyat untuk mengusir penjajah, menyebarkan kedamaian serta membawa kesejukan di tengah-tengah masyarakat ."

Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat.

(tulisan ini adalah hasil siaran kajian keputrian mahasiswi-mahasiswi Al-Ahgaff Banat, disusun oleh: Ulfatul Ummah)

 

Tulis Komentar


Kode keamanan
Segarkan